Pemimpin adalah individu yang memiliki tanggung jawab dan amanat demi menciptakan kemaslahatan umatnya. Dalam islam pemimpin disebut khalifah. Secara istilah khalifah adalah orang yang bertugas menegakkan syariat Islam. Pemimpin sebagai pemandu dan pengatur rakyatnya dalam negara, dalam islam memiliki beberapa sifat yaitu, shidiq (selalu berkata dan bersikap jujur serta benar), tabligh (menyampaikan), amanah (dapat dipercayai), fathanah (cerdas). Pemimpin memiliki tugas untuk mensejahterakan rakyatnya, menjalankan aspirasi, adil terhadap semua keputusannya, tidak mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok, dan menuju pada kemaslahatan bukan kemudharatan. Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa ayat 58, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (An-Nisa’ : 58). Dan dalam surat Shad ayat 26, Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah SWT. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah SWT akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Qs Shad: 26).

Melihat wajah para pemimpin negeri ini, rasanya belum ada sosok pemimpin yang benar-benar sesuai dengan makna pemimpin yang sebenarnya. Tugas dan kewajiban pemimpin yang seharusnya demi kemaslahatan umat, faktanya banyak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi ataupun golongan. Kasus demi kasus terjadi di negeri ini, mulai dari pemimpin partai politik islam yang terlibat korupsi, hingga presiden terpilih yang katanya merakyat tapi nyatanya menyengsarakan rakyat dengan menaikkan harga BBM ketika harga minyak dunia sedang turun. Banyak hak-hak rakyat yang tidak terpenuhi, kesejahteraan masih jauh dari harapan. Namun para pemimpin negeri ini terlihat hanya sibuk dengan tujuan-tujuan pribadinya, berleha-leha atas pekerjaannya, bersenang-senang atas kemewahannya, hingga memutar otak agar bisa mengeluarkan keputusan atau kebijakan yang memang bermanfaat untuk kepentingan kelompoknya.

Baca :  Pacaran Bukan Pra Nikah Umat Islam

Mungkin sesekali para elit ini berbaur dan bercengkrama dengan rakyat, namun entah karena merasa ada tugas, kewajiban, dan hak rakyat yang harus segera dipenuhi, atau hanya sekedar mencari eksistensi agar popularitas semakin tinggi, sehingga elektabilitas dapat terus meningkat, dan dapat terlihat sebagai pemimpin yang bekerja aktif di mata masyarakat. Janji demi janji yang disampaikan ketika belum jadi hingga kini hanya sebuah janji. Kepuasan yang tak pernah memiliki rasa puas membuat kekayaan yang dimiliki mungkin selalu dirasa kurang hingga korupsi demi korupsi sering menghiasi berita di banyak media negeri ini. Intelektualitas yang dimiliki tidak sesuai dengan perilaku dan kinerja yang dilakukan, nikmat duniawi serasa menjadi surga tersendiri tanpa memikirkan kehidupan selanjutnya yang kekal dan abadi yakni akhirat. Mungkin tidak semua pemimpin atau petinggi negeri ini seperti itu, namun fakta yang terjadi rakyat negeri ini masih jauh dari kata sejahtera.

Melihat fenomena para pemimpin negeri ini, tidak mungkin tidak ada alasan mengapa hal-hal yang membawa kemudharatan sering terjadi. Manusia sebagai makhluk yang memiliki hawa nafsu dan sering melakukan kekhilafan dalam dirinya tentu menjadi salah satu faktor yang membuat kewajiban kita sering terabaikan. Rasa tidak pernah puas dan kerakusan duniawi menjadikan manusia lupa akan kewajiban dan tanggung jawabnya atas amanah yang sedang di emban. Nikmat dan kemewahan dunia seringkali menjadi tantangan pribadi dalam menjalankan kewajiban. Banyak kesalahan-kesalahan yang  dilakukan dapat berdampak buruk bagi banyak umat, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Baca :  Anekdot dan Kritik Masa Kini

Namun tidak hanya faktor diri sendiri atau internal yang dapat menyebabkan  pemimpin negeri ini sebagai pengemban amanah rakyat, dan pemegang kewajiban, tidak menjalankan tugas sesuai dengan semestinya. Faktor eksternal pun banyak menjadi penyebab terjadinya kesalahan-kesalahan atau kemudharatan yang dilakukan. Salah satunya dengan adanya seseorang yang menjadi pemimpin di negeri ini, tidak lepas hanya karena peran pribadi semata namun adanya faktor dukungan lain yang membantu seseorang tersebut dapat menjadi pemimpin. Sehingga ketika seseorang berhasil menjabat sebagai pemimpin, banyak para pendukung ataupun penyokong dana tersebut meminta hak-hak yang mereka inginkan dan merasa harus didapatkan. Oleh karena itulah ketika seseorang sudah menjadi pemimpin, salah satu kesibukannya adalah menyukseskan atau merealisasikan kepentingan-kepentingan yang diinginkan kelompok sehingga banyak kepentingan umat atau rakyat yang tidak terpenuhi atau dijadikan sebagai prioritas. Itulah ketika seorang pemimpin tidak memegang teguh tujuan utama yang seharusnya mensejahterakan rakyat.

Dengan berbagai problematika yang terjadi, tentunya seorang pemimpin haruslah tetap memegang idealismenya sebagai pemimpin sejati, pemimpin yang dapat menjalankan kewajibannya dengan baik, dan pemimpin yang dapat mendatangkan kemaslahatan bagi umatnya. Dinamika yang sering terjadi harus dapat dilewati dengan cara-cara yang syar’i. Iman sebagai seorang pemimpin harus terus ditingkatkan kualitasnya demi menangkal segala macam hasutan dan kekhilafan yang dapat menyebabkan kemudharatan. Pemimpin harus kembali kepada hakikat sebenarnya sebagai seorang pemimpin, yakni pemimpin yang jujur, menyampaikan, dapat dipercaya, dan cerdas. Pemimpin harus mampu bersikap adil, mementingkan kepentingan umat bukan kelompok. Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat dengan taqwa…” (Q.s. Al-Maidah 5: 8). Dan memastikan bahwa kerja-kerja yang dilakukan oleh seorang pemimpin semata-mata hanya untuk mengerjakan kebajikan yang dapat memberi kemaslahatan bagi rakyatnya. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat An-Nahl Ayat 90, Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (Q.S. An-Nahl:90).

Oleh karena itu, kita sebagai orang yang telah mengerti atau menyadari kondisi yang ada, marilah kita berbenah diri, siapkan diri kita menjadi seorang pemimpin sebagaimana pemimpin sebenarnya. Tanamkan dalam diri kita kekuatan iman setinggi-tingginya. Dan ajarkan kepada saudara, anak, ataupun cucu kita tentang hakikat seorang pemimpin yang sebenarnya, karena merekalah penerus kita, merekalah penerus dan harapan bangsa.

Baca :  SEMMI DAN JEJAK HANKAM INDONESIA Catatan menyambut 63 tahun Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI)

 

Oleh : Lathif Fardiansyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here